Menyaksikan dan Membicarakan Masa Depan Subak Lewat Dokumenter Bali: Alam atau Uang

Sesi diskusi bersama penanggap pasca menyaksikan video dokumenter Bali: Alam atau Uang? © I Made Rhayana Satria Darma

Kamis, 11 Desember 2025, PlastikDetox mengadakan acara nonton bersama dokumenter pendek berjudul “Bali: Alam atau Uang?”. Acara ini sekaligus menjadi ruang diskusi terkait transisi subak di Bali yang kini justru menjadi sasaran pembangunan masif untuk pariwisata. Bertempat di Dharma Negara Alaya, diskusi ini menghadirkan Gusti Wayan Danu, Sekretaris Subak Intaran; Dr. Sumiyati, S.TP., MP., dosen Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana; I Gusti Ayu Nyoman Septiari, jurnalis BaleBengong; Putu Oka Astama Adi Putra sebagai produser dokumenter; serta Ni Luh Sri Junantari sebagai moderator dari PlastikDetox.

Subak merupakan salah satu perwujudan nyata dari Tri Hita Karana, filosofi masyarakat Bali yang mengajarkan tiga penyebab kebahagiaan dan keharmonisan. Namun, pesatnya pembangunan industri pariwisata justru menyepelekan kelanggengan subak. Transisi ini merugikan tidak hanya lingkungan, tetapi juga para petani subak. Dampak alih fungsi lahan tersebut bahkan terlihat dari bencana banjir yang sempat terjadi di Bali beberapa waktu lalu.

Kesadaran inilah yang kemudian mendorong Putu Oka Astama, produser dokumenter sekaligus fasilitator acara, untuk mengajak para peserta berdiskusi secara langsung di Dharma Negara Alaya.

“Pembuatan dokumenter Bali: Alam atau Uang? dan pelaksanaan acara ini dilatarbelakangi keresahan yang timbul akibat masifnya alih fungsi lahan yang menyasar pertanian subak. Di subak Jatiluwih misalnya, hanya terdapat 227,41 hektare yang masih aktif dari 303 hektare lahan subak. Tentu saja kondisi ini menjadi sangat mengkhawatirkan, karena eksistensi subak harus dikompromikan demi mendukung pembangunan pariwisata yang semakin menuntut ruang yang luas,” jelas Oka.

Menghadirkan 54 peserta dari berbagai kalangan, acara ini memiliki empat tujuan utama: (1) meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya subak sebagai lembaga adat yang menjaga lahan sawah di Bali; (2) menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat untuk menyuarakan dampak pembangunan pariwisata yang tidak terkontrol; (3) memperkuat pemahaman bahwa pelestarian alam seperti subak membutuhkan kolaborasi lintas sektor; dan (4) memberikan pengalaman acara minim sampah kepada peserta.

Sebelum memasuki diskusi yang lebih mendalam, seluruh peserta terlebih dahulu menyaksikan video dokumenter singkat karya Putu Oka Astama adi Putra, Zakharia Billy Aprilius Simatupang, dan Putu Ayu Sari Khapti Artining. Pemutaran ini menjadi titik awal bagi peserta untuk memahami konteks alih fungsi lahan subak sebagai isu yang tidak hanya teknis, tetapi juga menyangkut identitas, ekonomi, dan keberlanjutan Bali. Setelah film berakhir, sesi diskusi langsung mengajak peserta untuk melihat keterhubungan antara kebijakan tata ruang, menurunnya minat generasi muda dalam sektor pertanian, serta lemahnya perlindungan ruang terbuka hijau yang mempersempit ruang hidup subak.

Dari pengalaman langsung di lapangan, Gusti Wayan Danu, seorang petani yang mengalami sendiri bagaimana subak beralih fungsi menjadi kawasan pariwisata, menyampaikan realitas yang sering tidak terlihat. Ia mengatakan bahwa pariwisata tidak selalu menjamin kesejahteraan seperti yang dibayangkan banyak generasi muda. “Yang kaya kita (pekerja buruh) itu kita diperas,” tambah Wayan Danu. Baginya, bekerja sebagai petani justru bisa memberikan keuntungan yang sama atau bahkan lebih besar dibanding bekerja sebagai buruh di sektor pariwisata.

Di sisi lain, penjelasan Dr. Sumiyati, S.TP., MP., turut menyoroti persoalan struktural yang dihadapi petani, terutama terkait kepemilikan lahan. Menurutnya, sempitnya lahan akibat sistem pembagian keluarga menjadi kendala utama. Ia juga menggarisbawahi tantangan koordinasi antar-instansi. “Kalau ada masalah (terkait subak) mau ke Dinas Pertanian malah dilempar ke (Dinas) Kebudayaan, memang seperti di kuis (pre-test) harus ada intervensi dari pihak pengambil keputusan untuk menjaga, jadi kalau mau menjaga subak, tentu saja tidak hanya lahan subaknya saja, petaninya saja, atau organisasinya saja, tetapi juga sumber airnya.

Dalam sudut pandang media, I Gusti Ayu Nyoman Septiari menyoroti terkait alih fungsi lahan selalu menunjukkan pola yang sama. “Terdapat 3 hal yang selalu ditemukan di setiap subak di Bali. Pertama, tekanan ekonomi dari petani. Kedua, perizinan OSS yang digunakan pelaku usaha untuk membangun di area subak. Ketiga, penindakan yang terlambat,” ungkapnya ketika ditanya soal pengalamannya meliput isu ini. Ia juga mempertanyakan peran pihak yang seharusnya mendorong generasi muda masuk kembali ke sektor pertanian. “Siapa sih yang harus berperan untuk mendorong generasi muda ini untuk mau bertani? Apakah harus ada pemerintahnya yang harus masuk? Itu yang menurut aku masih kosong di sini,” ucapnya.

Septiari kemudian menjelaskan bahwa pola alih fungsi lahan sering dimulai dari celah kebijakan dan perizinan yang longgar. Ia menambahkan bahwa media arus utama secara tidak langsung turut menormalisasi hilangnya subak, mengikuti minat pembaca yang lebih tertarik pada promosi destinasi wisata baru dibanding konflik ruang yang menyertainya.

Dari perspektif kreator dokumenter, Oka membagikan proses kreatif dan kegelisahan yang mendorongnya mengangkat isu ini. Ia menegaskan bahwa film tersebut tidak dibuat untuk meromantisasi sawah, tetapi untuk memperlihatkan realitas bahwa identitas Bali sebagai pulau yang menjunjung Tri Hita Karana kini berada pada titik kritis. Ia menekankan bahwa subak bukan sekadar latar foto pariwisata, melainkan sistem ekologis dan sosial yang menjaga keseimbangan alam Bali selama ratusan tahun.

Selain membuka ruang dialog, acara ini juga menerapkan praktik minim sampah sesuai nilai yang dipegang PlastikDetox. Peserta membawa botol minum dan kotak makan pribadi, didukung panitia yang menyediakan stasiun isi ulang air minum sebagai bentuk komitmen terhadap penyelenggaraan acara ramah lingkungan.

Melalui pemutaran dokumenter dan diskusi publik ini, PlastikDetox berharap semakin banyak pihak memahami perlunya melindungi subak sebagai identitas budaya dan ekologi Bali. Harapan ini juga ditegaskan Oka ketika ditanya mengenai tujuan jangka panjang dari dokumenter dan penyelenggaraan acara. “Luaran yang saya harapkan dari acara ini adalah meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya subak dalam ekosistem lingkungan Bali, serta tumbuhnya komitmen dan semangat untuk memperjuangkan hak-hak subak dan petaninya. Harapannya, dengan mempertemukan berbagai elemen masyarakat, akan muncul ide-ide kreatif dan kolaborasi lintas sektor. Inisiasi ini diharapkan dapat memicu pembentukan kebijakan publik yang memperhatikan suara subak dan petani, dan berpihak kepada subak,” tambah Oka.

Acara ditutup dengan penyerahan piagam kepada para penanggap serta sesi foto bersama. Meskipun kegiatan utama telah selesai, PlastikDetox menegaskan komitmennya untuk meneruskan semangat advokasi subak bagi kelompok adat yang terus terancam alih fungsi lahan. Hasil diskusi dan pelaksanaan kegiatan akan dipublikasikan melalui media, media sosial, dan dibawa ke ruang-ruang diskusi bersama pemerintah.

PlastikDetox tetap berkomitmen membuka ruang diskusi publik mengenai isu lingkungan, mulai dari tata ruang, keberlanjutan pangan, hingga praktik hidup minim sampah, sebagai langkah nyata menjaga masa depan Bali.