Dharma Kula: Membangun Komunitas Berkelanjutan melalui Restoran Vegetarian

Di Ubud, kawasan yang dikenal dengan gaya hidup sadar kesehatan dan spiritualitas, Dharma Kula tumbuh sebagai ruang makan yang tidak hanya menyajikan hidangan vegetarian, tetapi juga membangun komunitas yang inklusif dan berorientasi pada keberlanjutan. Usaha ini bermula pada tahun 2017 dengan nama Dharma Cafe, sebelum kemudian berkembang menjadi Dharma Kula seperti yang dikenal saat ini. Kehadiran Dharma Kula berangkat dari pengalaman pribadi Jovita Hardoyo, sang owner yang sempat mengalami krisis kesehatan. Bermula dari hal tersebut, Ia bersama Torkis H. Nasoetion mulai merintis restoran vegetarian ini. 

“Kami pindah ke Ubud sekitar sembilan tahun lalu. Kami mau belajar cara hidup yang lebih sehat,” cerita Jovita yang ditemui pada Jumat, 27 Februari 2026 di Dharma Kula.

Pada saat itu, komunitas masyarakat Ubud dikenal sangat peduli terhadap kesehatan, sebuah nilai yang kemudian menjadi fondasi utama Dharma Kula. Dari pengalaman tersebut, muncul keyakinan bahwa sebuah usaha tidak seharusnya hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menghadirkan dampak positif bagi komunitas sekitar. Konsep community di Dharma Kula diwujudkan melalui suasana yang sangat kasual dan terbuka. 

Restoran ini menyediakan playground dan area keluarga untuk beristirahat, serta menjadi ruang aman bagi berbagai aktivitas pelanggan. Beberapa pengunjung bahkan menghabiskan waktu seharian untuk bekerja, mengikuti kelas bahasa Indonesia, atau sekadar bersantai bersama hewan peliharaan mereka. Dharma Kula juga secara rutin menghadirkan kelas yoga dan meditasi yang terbuka untuk umum sebagai bagian dari kegiatan komunitas yang bertujuan mendukung kesehatan fisik dan mental.

Dalam praktiknya, Dharma Kula berkomitmen menjalankan bisnis 100% vegetarian. Komitmen ini diterjemahkan melalui pendekatan yang terus berkembang, termasuk proses riset dan pengembangan menu yang tidak pernah berhenti. Salah satu menu best seller yang mencerminkan pendekatan tersebut adalah Avocado Wasabi on Toast. Hidangan ini adalah menu spesial yang populer sejak awal Dharma Kula berdiri dan telah melalui berbagai proses pengembangan hingga tetap digemari banyak pelanggan sekarang. 

Menu ini istimewa karena rasanya cocok untuk orang yang baru mencoba makanan vegetarian namun belum cocok dengan salad yang terlalu western. Selain itu, pelanggan lokal tidak perlu khawatir karena Dharma Kula juga menyediakan hidangan non salad seperti Nasi Goreng Meatless yang menggunakan sate jamur sebagai alternatif daging dan pizza berbasis sourdough, yang lebih mudah dicerna dan dinilai lebih sehat.

“Makanan yang disajikan harus sejalan dengan nilai untuk tidak menyakiti alam dan makhluk hidup,” tutur Jovita antusias. 

Pengembangan menu di Dharma Kula tidak hanya berfokus pada rasa, tetapi juga kandungan nutrisi. Setiap hidangan dirancang dengan pertimbangan keseimbangan protein dan zat gizi lainnya serta tanpa menggunakan MSG. Prinsip yang dipegang adalah bahwa makanan sehat tetap bisa enak, terjangkau, dan dapat dinikmati oleh semua kalangan termasuk mereka yang tidak menjalani gaya hidup vegetarian. Dharma Kula memasok bahan baku dari pasar dan pedagang lokal di sekitar Ubud untuk menjaga keterjangkauan harga sekaligus mendukung perekonomian lokal. 

“Jarak distribusi yang lebih dekat juga memastikan bahan tetap segar dan mengurangi jejak karbon dari proses pengangkutan sekaligus membantu pedagang lokal,” kenang Torkis

Praktik keberlanjutan Dharma Kula juga tercermin dalam prosedur yang memastikan staff memilah sampah. Sampah organik restoran ini dikelola melalui kerja sama dengan vendor pengolahan kompos yang melakukan pengangkutan setiap hari. Sementara untuk sampah anorganiknya, Dharma Kula menerapkan prinsip Reduce dan Reuse. Salah satu penerapannya adalah dengan menyajikan jamu dan jus dalam botol kaca yang dapat digunakan kembali. Dharma Kula juga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan mengganti kemasan plastik menjadi kemasan berbasis kertas. 

Sekitar 90 persen pelanggannya merupakan wisatawan asing. Namun, Dharma Kula terus berupaya memperkenalkan gaya hidup sehat berbasis makanan nabati kepada lebih banyak masyarakat Indonesia. Strategi yang digunakan adalah menghadirkan menu populer seperti pizza dan burger dalam versi vegetarian, sehingga lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan.

Setelah hampir satu dekade beroperasi, Dharma Kula terus berproses dan belajar. Mereka percaya usaha-usaha yang berupaya meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan pasti akan semakin banyak cepat atau lambat. Mereka sudah memilih untuk memulainya sejak 9 tahun lalu. Jadi, tunggu apa lagi? Inilah giliranmu untuk berkunjung ke Dharma Kula.

Nama penulis: I Made Jabin Arya Dedanda
Nama Penyunting: Nanda Widyasari

Profil singkat: 
I Made Jabin Arya Dedanda adalah salah satu relawan PlastikDetox pada tahun 2026. Ia memiliki ketertarikan untuk mempelajari praktik-praktik ramah lingkungan di Bali. Saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa tahun ketiga Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana.