Matahari yang bersinar terik di pesisir Pantai Bopel tak menyurutkan semangat tim PlastikDetox dan para peserta untuk berpartisipasi aktif dalam Obral-Obrol Padang Lamun Kita dengan tema Membuka Jalan Partisipasi Publik dalam Perawatan Padang Lamun. Acara diskusi berlangsung pada Minggu, 12 April 2026 membahas kondisi padang lamun di Bali yang makin terancam oleh pencemaran sampah plastik sekali pakai. Kegiatan ini menghadirkan perspektif dari Putu Satya Pratama Atmaja, S.Kel, M.Si selaku akademisi dan Gusti Ayu Made Mirah Rismayanti dari Bendega.id selaku praktisi konservasi padang lamun.
Sebagai wilayah dengan aktivitas pariwisata yang tinggi, pesisir Bali menghadapi tekanan lingkungan yang tidak kecil. Hasil penelitian dari Putu Satya Pratama Atmaja, S.Kel, M.Si menunjukkan bahwa dari sekitar 200.000 ton limbah plastik yang dihasilkan setiap tahun di Bali, hanya 60% yang berhasil dikelola, sementara 40% sisanya tidak terkelola dengan baik, yang turut mencemari lingkungan pesisir termasuk ekosistem padang lamun. Padang lamun sendiri memiliki peran penting sebagai penyerap karbon, penstabil sedimen, serta habitat bagi berbagai biota laut. Namun, kondisi ini kini semakin rentan akibat akumulasi sampah dan aktivitas manusia yang tidak terkelola dengan baik.
Kegiatan ini dihadiri oleh 45 peserta dari mahasiswa, pekerja profesional, hingga pengelola daerah tujuan wisata. Dalam sesi gelar wicara, Putu Satya Pratama Atmaja, S.Kel., M.Si., membagikan hasil penelitiannya terkait kondisi padang lamun di Bali. Satya menegaskan bahwa pariwisata secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap lingkungan.
“Ternyata, efek pariwisata walaupun dia bagus secara ekonomi, secara langsung atau tidak langsung berdampak pada lingkungan. Dari mana? Dari jumlah macro debris, jumlah sampah yang ditemukan tersangkut di ekosistem lamun,” jelas Satya dalam pemaparannya.
Ia juga menjelaskan lebih lanjut bahwa sampah plastik yang paling banyak ditemukan di ekosistem lamun berupa fragmen dan fiber, yang banyak menempel pada daun serta organisme yang hidup di sekitarnya. Sampah makro seperti sedotan dan plastik lembaran juga menjadi temuan dominan, yang menunjukkan kuatnya keterkaitan antara aktivitas wisata dan pencemaran pesisir.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberadaan plastik tidak hanya menjadi persoalan estetika, tetapi juga berdampak langsung pada keberlangsungan hidup lamun. Plastik yang menutupi daun dapat menghambat proses fotosintesis dan menyebabkan pembusukan, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu bahkan berujung pada kematian. Dalam konteks yang lebih luas, perubahan kecil pada kondisi lingkungan dapat dengan cepat memperburuk kualitas padang lamun yang secara umum sudah berada pada kondisi sedang di wilayah selatan Bali.
Dari sisi praktik lapangan, Gusti Ayu Made Mirah Rismayanti membagikan pengalaman dalam melakukan konservasi bersama komunitas Bendega di wilayah Sanur. Gusti Ayu turut menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi kelestarian padang lamun berdasarkan temuan di lapangan. Ia memaparkan adanya perbedaan kondisi yang cukup mencolok di wilayah pesisir selatan Bali. Tutupan lamun dari Pantai Karang sampai di Pantai Bopel bisa dibilang masih bagus karena mencapai 90%. Sedangkan, kalau di Pantai Mertasari yang masih satu garis pantai dan hanya berselang satu gazebo, tutupan padang lamun hanya mencapai 15%. Tekanan terhadap padang lamun tidak hanya berasal dari faktor alami, tetapi juga dari intensitas aktivitas manusia di wilayah pesisir.
“Akhirnya kami coba turun ke lapangan, ternyata ada dua faktor yang kita lihat: alam serta manusia. Alamnya apa? Arus di sini sudah agak kencang, tapi itu bukan faktor utamanya. Faktor utama terletak pada manusianya. Seperti yang kita tahu, Pantai Selatan ini merupakan wilayah yang aktivitasnya cukup tinggi,” jelas Gusti Ayu.

Diskusi kemudian berlanjut pada sesi gema bersama yang berlangsung hangat dan interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan dalam dua putaran diskusi dengan total enam penanya. Pertanyaan yang muncul beragam, mulai dari manfaat ekologis padang lamun, proses konservasi, perlindungan hukum dalam melaksanakan konservasi hingga cara menyeimbangkan aktivitas pariwisata dengan upaya pelestarian lingkungan.
I Gusti Agung Ayu Putri Pradnya Paramita salah satu peserta dari Pers Mahasiswa Akademika Universitas Udayana, menyatakan kesannya selama mengikuti Obral-Obrol Padang Lamun Kita. Putri yang sebelumnya tidak mengetahui tentang padang lamun yang ternyata berbeda dengan rumput laut, menyatakan bahwa setelah mengikuti diskusi Ia lebih mengenal padang lamun, perannya, dan upaya untuk ikut menjaga keberadaan ekosistemnya.
“Salah satu hal yang penting juga kadang kita nggak sadar banyak banget aktivitas kita merusak lamun yang sebetulnya dampaknya kembali ke kita juga jadi insight baru buat saya,” refleksi Putri pasca mengikuti Obral-Obrol Padang Lamun Kita.
Putu Oka Astama Adi Putra selaku Koordinator Program PlastikDetox menyampaikan bahwa PlastikDetox mendesain Obral-Obrol Padang Lamun Kita untuk menjadi ruang aman untuk mengenal ekosistem padang lamun sehingga kita bisa melaksanakan strategi untuk merawat ekosistem padang lamun.
“PlastikDetox meyakini bentuk partisipasi publik dalam pelestarian padang lamun tidak hanya terbatas dalam membantu proses transplantasi lamun saja, kita bisa berkontribusi dalam perawatan padang lamun dengan sesederhana mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari,” imbuh Oka.
Sebagai bagian dari proses refleksi, peserta kemudian diminta menuliskan satu aksi yang akan mereka terapkan dan satu aksi yang akan mereka tularkan kepada orang lain. Hasilnya menunjukkan kecenderungan yang cukup jelas terhadap perubahan perilaku sehari-hari. Sebanyak 40% peserta menyatakan akan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sementara 20% lainnya ingin terlibat langsung dalam kegiatan konservasi padang lamun.
Tidak hanya berhenti pada aksi pribadi, peserta juga menunjukkan keinginan untuk memperluas dampak. Sekitar 50% peserta menuliskan bahwa mereka akan mengedukasi orang-orang terdekat mengenai pentingnya padang lamun dan perannya dalam ekosistem pesisir.
Kegiatan ini juga menerapkan praktik minim sampah. Selama acara berlangsung, PlastikDetox menyediakan stasiun isi ulang air minum untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Peserta diingatkan untuk membawa botol minum dan wadah makan sendiri, serta membuang sampah sesuai jenisnya di tempat sampah yang telah disediakan. Ajakan ini direspon baik oleh 73% peserta yang membawa wadah makan sendiri serta 27% lainnya menggunakan alat makan guna ulang dari Taksu Reuse. Lewat aksi ini Obral-Obrol Padang Lamun Kita dapat mencegah terciptanya hingga 5Kg sampah sekali pakai berakhir di tempat pembuangan akhir.
Siaran ulang Obral-Obrol Padang Lamun Kita dapat disaksikan di:
Me-lamun Bersama untuk Merawat Padang Lamun Kita
Penulis: Kein Surung
Profil singkat: Kesehariannya berkutat dengan tren sosial media dan berbagai tools editing. Menulis yang dulu hanya menjadi ruang pribadi tetapi kini berkembang menjadi media untuk berbagi dan menyampaikan gagasan ke ruang publik. Kein tertarik pada berbagai isu, terutama yang berkaitan dengan interaksi sosial, lingkungan, dan politik.
Penyunting: Ni Luh Sri Junantari

